Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah badan maritim Inggris melaporkan adanya insiden serangan proyektil terhadap sebuah kapal yang sedang melintas di jalur vital Selat Hormuz. Berdasarkan laporan UKMTO, insiden tersebut memicu kebakaran hebat di atas kapal sehingga memaksa otoritas setempat untuk segera mengevakuasi seluruh awak kapal guna menghindari korban jiwa lebih lanjut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Peristiwa ini terjadi hanya berselang sehari setelah pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menutup sementara pipa minyak East-West sebagai langkah pencegahan darurat. Penutupan tersebut dilakukan menyusul terjadinya serangan drone yang diduga kuat berasal dari wilayah Irak, tempat di mana sejumlah milisi yang berafiliasi dengan Iran beroperasi aktif.
Berdasarkan analisis awak media, eskalasi konflik yang semakin meluas ini dikhawatirkan akan terus mendorong lonjakan harga energi global ke tingkat yang lebih mengkhawatirkan. Terlebih lagi, harga minyak mentah Brent baru saja meroket melewati angka 100 dolar Amerika Serikat per barel setelah serangkaian gangguan distribusi pasokan minyak mentah dunia.
Pipa minyak East-West sepanjang 1.200 kilometer yang membentang di Semenanjung Arab selama ini diandalkan sebagai jalur utama pasokan minyak dunia karena sebagian besar wilayah Selat Hormuz tertutup akibat perang. Jalur pipa strategis tersebut rata-rata mengalirkan empat hingga lima juta barel minyak per hari untuk menjaga stabilitas pasar energi global.
Pemerintah Amerika Serikat melalui pernyataan Presiden Donald Trump menyebutkan bahwa Iran kemungkinan besar berada di balik rangkaian serangan yang menargetkan infrastruktur vital dan jalur pelayaran internasional. Sementara itu, dinamika politik regional semakin rumit setelah Putra Mahkota Arab Saudi dikabarkan meminta bantuan militer langsung kepada Washington.